BOGOR — Jejak sejarah dan kearifan lokal Sunda kembali coba dihidupkan dari pelosok Kabupaten Bogor. Pemerintah Desa Jambuluwuk, Kecamatan Ciawi, mulai membangun dan menata Kampung Dayeuh, sebuah kawasan yang diarahkan menjadi ruang budaya, lingkungan dan edukasi masyarakat.
Bukan sekadar mempercantik kampung, pembangunan Kampung Dayeuh Jambuluwuk membawa pesan lebih besar: mengajak masyarakat kembali mengenal sejarah, budaya dan identitas lokal yang menjadi bagian dari perjalanan panjang wilayah Bogor.
Program tersebut sejalan dengan semangat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang kerap mendorong pelestarian sejarah, budaya lokal, kearifan Sunda serta penataan lingkungan berbasis masyarakat.
Konsep dayeuh sendiri memiliki makna penting dalam tradisi Sunda sebagai pusat kehidupan atau peradaban. Dalam konteks Bogor, istilah tersebut juga berkaitan dengan narasi sejarah Dayeuh Pakuan Pajajaran yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas sejarah Tatar Sunda.
Semangat tersebut kemudian didorong di tingkat Kabupaten Bogor melalui program Kampung Dayeuh Pajajaran. Pemerintah
Kabupaten Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto mendorong desa-desa untuk menata lingkungan dengan mengangkat karakter serta kearifan lokal masing-masing.
Dukungan program tersebut salah satunya melalui Bantuan Keuangan (Bankeu) sebesar Rp300 juta untuk penataan kampung, dengan arah pengembangan kawasan yang bersih, hijau, tertata dan memiliki nilai budaya.
Jambuluwuk Tak Mau Ketinggalan
Kepala Desa Jambuluwuk, kang Dedi, (KDJ) menyambut positif program tersebut. Menurutnya, Kampung Dayeuh bukan hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami sejarah dan menjaga lingkungan secara bersama-sama.
“Dengan adanya program ini, kita ingin mengingatkan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa Kabupaten Bogor memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan peninggalan Kerajaan Pajajaran,” ujar kang Dedi jambuluwuk.
Ia menambahkan, masyarakat Desa Jambuluwuk menunjukkan antusiasme dalam proses pembangunan Kampung Dayeuh.
Semangat gotong royong pun mulai terlihat. Warga bersama pemerintah desa terlibat dalam penataan kawasan agar konsep Kampung Dayeuh tidak berhenti sebatas program pemerintah, tetapi benar-benar menjadi gerakan masyarakat.
Menurut kang Dedi, yang sering di sapa( KDJ) keterlibatan warga sangat penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh anggaran, melainkan bagaimana masyarakat memiliki rasa tanggung jawab untuk merawat hasil pembangunan.
“Yang paling penting masyarakat ikut terlibat. Kita ingin Kampung Dayeuh ini menjadi tempat edukasi sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong,” katanya.
Bukan Sekadar Kampung Cantik
Program Kampung Dayeuh diharapkan mampu memadukan sejumlah unsur sekaligus, mulai dari kebersihan lingkungan, penghijauan, estetika kawasan, kebudayaan hingga edukasi sejarah.
Setiap desa juga memiliki peluang mengembangkan ciri khas masing-masing sesuai potensi lokal. Dengan begitu, Kampung Dayeuh tidak harus tampil seragam, tetapi justru memiliki karakter yang mencerminkan identitas masyarakat setempat.
Bagi Desa Jambuluwuk, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas desa sekaligus mengenalkan nilai sejarah dan budaya kepada generasi muda.dan juga mengucapkan terima kasih kepada bapak gubernur Dedi mulyadi terutama kepada bupati Bogor Rudi susmanto.
kepala desa Jambuluwuk kang Dedi dan warganya ucapkan terima kasih kepada pemerintah .
Jika semangat tersebut terus dijaga, Kampung Dayeuh Jambuluwuk bukan hanya akan menjadi kawasan yang lebih tertata, tetapi juga dapat menjadi ruang masyarakat untuk mengenal sejarah, merawat budaya, menjaga lingkungan dan menghidupkan kembali gotong royong.
Warisan sejarah boleh berada di masa lalu, tetapi semangat untuk merawatnya menjadi tanggung jawab generasi hari ini. (B2g)







