BOGOR, Kompasjabar — Pedagang kaki lima (PKL) musiman atau pasar tumpah menjelang Lebaran mulai mendirikan lapak di sepanjang kawasan Pasar Ciawi hingga Jalan M. Toha yang kini bernama Jalan Jenderal Hoegeng.
Lapak-lapak tersebut umumnya menggunakan material bambu dengan ukuran beragam. Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian lapak bahkan didirikan di atas saluran air, yang dikhawatirkan dapat menyebabkan penyumbatan dan memicu banjir apabila debit air meningkat.
Selain itu, kehadiran PKL musiman ini juga dikhawatirkan menimbulkan kesemrawutan kawasan serta berpotensi memicu kemacetan lalu lintas di jalur yang dikenal padat kendaraan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lapak-lapak itu disediakan oleh sejumlah oknum organisasi masyarakat. Para pedagang yang ingin berjualan disebut harus membeli lapak dengan harga yang telah ditentukan.
“PKL musiman di sini (Jalan Jenderal Hoegeng) sudah menjadi tradisi setiap menjelang Lebaran. Ada koordinator yang mengakomodir lapak-lapaknya,” ujar Bahlil, warga Ciawi.
Menurut Bahlil, pengelolaan lapak PKL tidak hanya dilakukan oleh satu pihak saja.
“Tidak hanya satu pihak (ormas), tapi banyak. Misalnya di titik tikungan Pasar Ciawi dikelola si A, dari kantor pos hingga Polsek Ciawi dipegang pihak lain, dan ke atasnya ada lagi yang mengelola,” katanya.
Ia juga menyebutkan, para pedagang yang ingin menempati lapak harus membayar biaya sewa yang nilainya bervariasi, mulai dari sekitar Rp500 ribu untuk ukuran paling kecil.
“Artinya praktik pungutan liar bisa saja terjadi,” ujarnya.
Terkait kebutuhan penerangan, Bahlil menduga listrik yang digunakan untuk lapak-lapak tersebut tidak sepenuhnya resmi.
“Kalau tidak nyuri, ambil jalur dari mana listriknya,” kata dia.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Ciawi, Denny Kuswara mengatakan pihaknya bersama unsur Forkopimcam telah memanggil koordinator PKL musiman atau pasar tumpah pada Selasa (10/3/2026).
“Kami tegaskan bahwa Forkopimcam Ciawi tidak pernah memberikan izin untuk adanya lapak-lapak dagangan di area yang bukan peruntukannya,” ujar Denny.
Meski demikian, ia mengakui aktivitas pasar tumpah tersebut sudah lama menjadi fenomena rutin yang muncul setiap menjelang Lebaran di wilayah Ciawi.
“Kami memberikan arahan kepada para koordinator agar menata dagangannya supaya tidak masuk ke badan jalan. Selain itu, mereka juga diminta mengelola sampah serta mengatur parkir dengan membuat kantong-kantong parkir,” jelasnya.
Denny juga menekankan pentingnya menjaga ketertiban umum serta meminimalkan potensi kepadatan arus lalu lintas di kawasan tersebut. (Red)










